TEORITIS ASMA
1.
Pengertian
asma adalah penyakit yang disebabkan
oleh peningkatan respon dari trachea dan bronkus terhadap bermacam-macam
stimuli yang ditandai dengan penyempitan bronkus atau bronkhiolus dan sekresi
yang berlebih-lebihan dari kelenjer-kelenjer dimukosa bronchus.(www.google.)
Asma adalah suatu gangguan yang
kompleks dari bronkial yang dikarakteristikan oleh periode bronkospasme
(kontraksi spasme yang lama pada jalan nafas). (poloski : 1996)
Asma adalah penyakit jalan nafas
obstruktif intermiten, reversible dimana
trakea dan bronchi berespon secara hiperaktif terhadap stimulasi tertentu
(www.google.com)
Asma adalah suatu penyakit gangguan
jalan nafas obstruktif intermiten yang bersifat reversible, ditandai dengan
adanya priode bronkospasme, peningkatan respon trakea dan bronkus terhadap
berbagai rangsangan yang menyebabkan penyempitan jalan nafas (www.gooogle.com)
Asma adalah suatu keadaan dimana
saluran nafas mengalami penyempitan kartena hiperaktivitas terhadap rangsangan
tertentu yang menyebabkan peradangan
(www. Google. Com )
2.
Etiologi :
a.
Faktor eksrinsik / alergi :
Asma yang timbul karena reaksi
hipersensitivitas yang disebabkan oleh adanya
Ig.E yang bereaksi terhadap antigen yang terdapat diudara (antigen -
inhalasi), seperti debu, bulu binatang,
makanan, asap rokok , dan obat-obatan.
b.
Faktor intrinsic / idiopatik :
1).
Virus yang menyebabkan ialah
para influenza virus, retiratory syncytial virus (RSV)
2). Bakteri ,misalnya
pertusis dan streptokokkus
3).
Jamur , misalnya aspergillus
c. Gabungan / campuran : asma yang terjadi
/timbul karena adanya komponen ekstrinsik dan instrinsik
3.
Anatomi Fisiologi
Saluran pernafasan ada 2 yaitu :
1. Saluran nafas atas
a. Hidung
Terdiri dari 2 bagian yaitu :
Rongga hidung dilapisi dengan membran mukosa yang sangat banyak mengandung
vaskular yang disebut mukosa hidung Permukaan mukosa hidung dilapisi oleh
sel-sel goblet yang mensekresi lendir secara terus menerus dan bergerak ke
belakang ke nasofaring oleh gerakan silia.
Fungsi hidung terdiri dari :
b. Faring
Merupakan
persimpangan antara saluran pernafasan dan saluran rongga makanan terdapat
dibawah dasar tenggorok dibelakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas
tulang leher. Faring dilapisi oleh selaput lendir (mukosa) yang dibawahnya
terdapat otot faring, otot-otot faring ini penting untuk mekanisme menelan.
c. Laring
Merupakan
saluran udara dan bertindak sebagai pembentukan suara terletak didepan bagian
faring samapai ketinggian vertebra servikalis dan masuk dalam trakea dibawahnya
pangkal tenggorokan ini dapat ditup dengan oleh sebuah empang tenggorokan yang
disebut epiglotis yang terdiri dari tulang-tulang yang berfungsi pada waktu
kita menelan makanan menutupi laring
d. Trakea
Merupakan
lanjutan dari laring yang dibentuk oleh 16 / 20 cincin yang terdiri-dari
tulang-tulang rawan yang berbentuk huruf C. Sebeklah dalam diliputi oleh lendir
yang berbulu getar yang disebut sel bersilia, hanya bergerak kearah luar.
Panjang trakea 9 – 11 cm dari belakang terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi
otot polos. Sel-sel bersilia gunanya untuk mengeluarkan benda-benda asing yang masuk bersama-sama dengan udara
pernafasan. Yang memisahkan trakea menjadi bronkus kiri dan kanan disebut
kavernea
2. saluran nafas bawah
a. Bronckus
Merupakan
lubang trakea setinggi vertebra thoracalis lima yaitu setinggi bronkus kiri dan
kanan. Bronkus dibentuk oleh cincin tulang rawan dan lebih panjang sedangkan
bronkus kanan lebih lebar dan lebih pendek
b. Bronkiolus
Bronkus segmental bercabang-cabang menjadi bronkiolus• Bronkiolus mengadung
kelenjar submukosa yang memproduksi lendir yang membentuk selimut tidak
terputus untuk melapisi bagian dalam jalan napas
c. Bronkiolus terminalis
Bronkiolus membentuk percabangan menjadi bronkiolus terminalis (yang tidak
mempunyai kelenjar lendir dan silia)
d. Bronkiolus Respirator
Bronkiolus respiratori dianggap sebagai saluran transisional antara jalan
napas konduksi dan jalan udara pertukaran gas
e. Duktus Alveolar dan Duktus Alveolan
Bronkiolus respiratori kemudian mengarah ke dalam duktus alveolar dan sakus
alveolar. Dan kemudian menjadi alveoli
f.
alveoli
Merupakan tempat pertukaran O2 dan CO2.Terdapat sekitar 300 juta yang jika
bersatu membentuk satu lembar akan seluas 70 m2
Terdiri atas 3 tipe :
Terdiri atas 3 tipe :
g. Paru
Merupakan organ yang elastis berbentuk kerucut.Terletak dalam rongga
dada atau toraks.Kedua paru dipisahkan oleh
mediastinum sentral yang berisi jantung dan beberapa pembuluh darah besar.Setiap
paru mempunyai apeks dan basis. Paru kanan
lebih besar dan terbagi menjadi 3 lobus oleh fisura interlobaris Paru kiri
lebih kecil dan terbagi menjadi 2 lobus,Lobos-lobus tersebut terbagi lagi
menjadi beberapa segmen sesuai dengan segmen bronkusnya
h. Pleura
Merupakan lapisan
tipis yang mengandung kolagen dan jaringan elastis
Terbagi mejadi 2 :
Terbagi mejadi 2 :
Diantara pleura terdapat rongga pleura yang berisi cairan tipis pleura yang
berfungsi untuk memudahkan kedua permukaan itu bergerak selama pernapasan, dan juga
untuk mencegah pemisahan toraks dengan paru-paru.
Tekanan dalam rongga pleura lebih rendah dari tekanan atmosfir, hal ini untuk mencegah kolap paru-paru
Tekanan dalam rongga pleura lebih rendah dari tekanan atmosfir, hal ini untuk mencegah kolap paru-paru
Fisiologi Pernafasan
Bernafas / pernafasan merupakan proses pertukaran udara
diantara individu dan lingkungannya dimana O2 yang dihirup (inspirasi) dan CO2
yang dibuang (ekspirasi).
Proses bernafas terdiri dari 3 bagian, yaitu :
Proses bernafas terdiri dari 3 bagian, yaitu :
a.
ventilasi
ventilasi yaitu masuk dan keluarnya udara atmosfir dari
alveolus ke paru-paru atau sebaliknya. Proses keluar masuknya udara paru-paru
tergantung pada perbedaan tekanan antara udara atmosfir dengan alveoli. Pada
inspirasi, dada mengembang, diafragma turun dan volume paru bertambah. Sedangkan
ekspirasi merupakangerakanpasif.
Faktor-faktor yang mempengaruhi ventilasi :
Faktor-faktor yang mempengaruhi ventilasi :
b.
Difusi
yaitu pertukaran gas-gas (oksigen dan karbondioksida)
antara alveolus dan kapiler paru-paru.Proses keluar masuknya udara yaitu dari
darah yang bertekanan/konsentrasi lebih besar ke darah dengan
tekanan/konsentrasi yang lebih rendah. Karena dinding alveoli sangat tipis dan
dikelilingi oleh jaringan pembuluh darah kapiler yang sangat rapat, membran ini
kadang disebut membran respirasi.
Perbedaan tekanan pada gas-gas yang terdapat pada masing-masing sisi membran respirasi sangat mempengaruhi proses difusi. Secara normal gradien tekanan oksigen antara alveoli dan darah yang memasuki kapiler pulmonal sekitar 40 mmHg.
Faktor-faktor yang mempengaruhi difusi :
Perbedaan tekanan pada gas-gas yang terdapat pada masing-masing sisi membran respirasi sangat mempengaruhi proses difusi. Secara normal gradien tekanan oksigen antara alveoli dan darah yang memasuki kapiler pulmonal sekitar 40 mmHg.
Faktor-faktor yang mempengaruhi difusi :
c.
Transpor
yaitu pengangkutan oksigen melalui darah ke sel-sel
jaringan tubuh dan sebaliknya karbondioksida dari jaringan tubuh ke kapiler. Oksigen
perlu ditransportasikan dari paru-paru ke jaringan dan karbondioksida harus
ditransportasikan dari jaringan kembali ke paru-paru. Secara normal 97 %
oksigen akan berikatan dengan hemoglobin di dalam sel darah merah dan dibawa ke
jaringan sebagai oksihemoglobin. Sisanya 3 % ditransportasikan ke dalam cairan
plasma dan sel-sel.
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju transportasi :
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju transportasi :
(www.google.com)
4.
Patofisiologi
Proses
perjalanan penyakit asma dipengaruhi oleh faktor ekstrinsik, instrinsik dan
gabungan antara ekstrinsik dengan intrinsik. Faktor tersebut dapat meningkatkan
terjadinya kontraksi otot-otot polos, meningkatnya sekret abnormal mukus pada
bronkiolus dan adanya kontraksi pada trakea serta meningkatnya produksi mukus jalan nafas, sehingga terjadi
penyempitan pada jalan nafas dan penumpukan udara diterminal oleh berbagai
macam sebab maka akan menimbulkan gangguan seperti gangguan ventilasi
(hipoventilas), gangguan difusi.
Pada
stadium permulaan mukosa pucat,terdapat edema dan sekret bertambah. Lumen
bronkus menyempit akibat spasme. Terlihat kongesti pembuluh darah, infiltrasi
sel eosinofil dalam sekret didalam lumen saluran nafas. Jika serangan terjadi
dan lama atau menahun akan terlihat deskuamasi (mengelupas) epitel, penebalan
membran hialin. Sehingga terjadi penyempitan jalan nafas dan hiperaktif dengan
respon terhadap bahan iritasi dan stimulasi lain.
Dengan
adanya bahan iritasi dan alergen otot-otot bronkus menjadi spasme dan zat
antigen tubuh muncul (Ig. E) dengan adanya alergi. Ig. E pada reseptor sel mast
yang menyebabkan pengeluaran histamin dan zat mediator lainnya. Mediator
tersebut akan memberikan gejala asma.
Klien yang
mengalami asma mudah untuk inhalasi dan sukar dalam ekshalasi karena edema pada
jalan nafas. Dan ini menyebabkan hiperinflasi pada alveoli dan perubahan
pertukaran gas. Jalan nafas menjadi obstruksi yang kemudian tidak adekuat
ventilasi dan saturasi oksigen, sehingga terjadi penurunan PO2 (hipoksia).
Selama serangan asma CO2 tertahan dengan
meningkatnya resistensi jalan nafas selam ekspirasi, dan menyebabkan asidosis respiratori
dan hipercapnea. Kemudian
sistem pernafasn akan mengadakan kompensasi dengan meningkatkan pernafasan (tachypnea). Kompensasi tersebut menimbulkan
hiperventilasi dapat menurunkan kadar CO2 dalam darah (hipocapnea). (www.google.com)
5.
Stadium Asma :
- stadium I
waktu
terjadinya edema dinding bronchus, batuk paroksimal karena iritasi dan batuk
kering, sputum yang kental
dan mengumpul merupakan benda asing yang merangsang batuk .
- Stadium II
Sekresi
bronchus bertambah batuk dengan dahak jernih dan berbusa pada stadium ini.
Mulai terasa sesak nafas berusaha bernafas lebih dalam, ekspirasi memanjang dan
ada whezing , otot nafas tambah turun bekerja terdapat retraksi supra sternal epigastrium.
- Stadium III
Obstruksi /
spasme bronchus lebih berat. Aliran darah sangat sedikit sehingga suara nafas
hampir tigdak terdengar, stadium ini sangat berbahaya karena sering disangka
ada perbaikan pernafasan dangkal tidak teratur dan frekuensi nafas menjadi
tinggi (www.google.com)
6.
Manifestasi Klinis
a.
Whezing
1). Dyspnea
dengan lama ekspirasi : penggunaan otot0otot asesori pernafasan, cuping
hidung
2). Batuk kering : karena sekret kental dan lumen jalan nafas
sempit.
b.
Sianosis
c.
Gelisah
d.
Nyeri
abdomen terhadap aktifitas, makan, bermain, berjalan, bahkan berbicara
e.
Kecemasan
f.
Serangan
terjadi secara tiba-tiba
g.
Sesak
nafas
h.
Nyeri
pada dada
i.
Anoreksia
j.
Pernafasan
: cuping hidung, nafas cepat dan dalam
(www.google.com)
7.
Komplikasi
a.
Gagal
nafas
b.
Fraktur
iga
c.
Ateletaksis
d.
Pneumothoraks
Kerja
pernafasan meningkat, kebutuhan O2 meningkat. Orang asma tidak sanggup memenuhi
kebutuhan O2 yang sangat tinggi yang dibutuhkan untuk bernafas untuk melawan
spasme-spasme bronkhiolus, pembengkakana bronkhiolus dan mukus yang kental..
situasi ini dapat menimbulkan pneumothoraks akibat besarnya tekanan untuk
melakukan ventilasi
e.
Kematian
(wwww.google.com)
8.
Pencegahan :
a.
Menghindari
penyebab asma
b.
Banyak
makanan yang bergizi
c.
Istirahat
yang cukup
d.
Hindari
stress
e.
Periksa
kesehatan secara teratur
f.
Obat-obatan
(www.google.com
9.
Pengobatan :
1. Bronchodilator
Adrenalin,
epetrin, terbutallin, fenotiron
2. Anti kolinergin
Iptropiem bromit
(atrovont)
3. Kortikosteroid
Pretrison,
hidrokortison, orodexon
4. Mukolitin
BPH, OBH,
bisolvon, mucapoel, dan banyak minumair putih
10.
Pemeriksaan Dignostik
- sinar X (Ronsen thorak)
Terlihat adanya
hiperinflasi paru-paru difragma mendatar.
- tes fungsi paru
Ditemukan dyspnea,
volume residu meningkat, dan adanya obstruksi atau retriksi dijalan nafas
- GDA
- Sputum (labotratorium)
Menentukan adanya
infeksi biasanya pada asma tanpa disertai infeksi.
(www.google.com)
ASUHAN KEPERAWATAN PADA
PASIEN ASMA
I.
PENGKAJIAN
1.
Identitas
klien
2.
Pengkajian
Awal
A = Biasanya ditemukan sekret dijalan nafas,
Bronkospasme
B =
Biasanya terjadi retraksi iga pernafasan, cepat, nafas cuping hidung, nafas
sesak
C = Biasanya denyut nadi meningkat, sianosis
D =
Tingkat kesadaran biasanya kesadaran klien composmentis kooperatif
3.
Riwayat
kesehatan
a. Riwayat kesehatan dahulu
Biasanya klien pernah menderita
penyakit asma atau alergi dan serangan asma yang lalu, dan masalah kesehatan
spesifik (pernafasan)
b. Riwayat kesehatan sekarang
Biasanya klien sesak nafas,
pernafasan cepat dan pendek, bunyi nafas wheezing, pernafasan cuping hidung,
batuk-batuk, adanya sekret / sputum, kelemahan/ keletihan, tidak ada nafsu
makan, mual dan muntah, dada terasa tertekan, sesak setelah melakukan aktivitas/
ketidak mampuan melakukan aktivitas, sesak nafas karena reaksi alergi /
sensitif terhadap zat
c. Riwayat kesehatan keluarga
Biasanya ada anggota keluarga
yang mengalami penyakit yang sama dengan klien.
4.
Pemeriksaan
fisik
a. Aktivitas / istirahat
Gejala :
b. Makanan dan cairan
Gejala :
c. Pernafasan
Gejala :
Tanda :
d. Kardiovaskuler:
e. Neurologis
f.
Muskoloskeletal
g. Integumen
h. Keamanan
Gejala :
II.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. bersihan jalan nafas tidak efektif b/d peningkatan produksi sekret/ sputum
2. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh b / d intake yang tak adekuat
3. intoleransi aktifitas b / d kelemahan
fisik
4. kerusakan
pertukaran gas b / d gangguan suplay O2
III.
INTERVENSI
1. bersihan jalan nafas tidak efektif b/d peningkatan produksi sekret/sputum
Tujuan : bersihan jalan nafas
kembali efektif
Dengan kriteria hasil :
Intervensi :
a.
Auskultasi
bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas,whezing
R/
: Sebagai sumber data adanya perubahan sebelum dan sesudah perawatan diberikan
b.
Berikan
posisi yang aman untuk klien misalanya
posisi semi fowler
R/:
Mengembangkan ekspansi paru
c.
Bantu
/ ajarkan klien untuk latihan nafas
dalam dan batuk efektif
R/ :
Membantu membersihkan mukus dari paru dan nafas dalam memperbaiki oksigenasi
d.
Lakukan
fisioterapi
R/ : membantu pengeluaran
sekresi, meningkatkan ekspansi paru
e.
Berikan
air hangat
R/ : mengencerkan sekret yang ada dijalan nafas
f.
Kolaborasi
·
Lakukan
suction jika perlu
R/ : membantu mengeluarkan
sekret yang tidak dapat dikeluarkan oleh klien.
·
Berikan
bronchodilator sesuai indikasi
R/ : Otot pernafasan menjadi
relaks dan steroid mengurangi inflamasi
2. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh b / d intake yang tak adekuat
Tujuan : Kebutuhan
nutrisi dapat terpenuhi
Kriteria
hasil :
Intervensi :
a.
Kaji
status nutrisi klien (testur kulit,rambut, konjungtiva)
R/ :
Menentukan dan membantu dalam intervensi selanjutnya
b. Jelaskan pada klien tentang pentinganya
makanan untuk kehidupan dan penyembuhan penyakitnya
R: Klien termotivasi untuk
menghabiskan makanan yang diberikan
c.
Timbang
dan berat badan
R/ : penurunan berat badan
yang signifikan merupakan indikator kurangnya nutrisi
d.
Anjurkan
klien minum air hangat saat makan
R/ : Air hangat dapat
mengurangi mual
e.
Berikan makanan dalam kondisi hangat
R: Meransang nafsu makanan klien
f.
Anjurkan
klien makan sedikit –sedikit tapi sering
R/ : Makanan kecil tapi sering
menyediakan energi yang dibutuhkan, lambung tidak terlalu penuh, sehingga
memberikan kesempatan untuk penyerapan makanan
g.
Perhatikan kebersihan mulut
klien
R: Meningkatkan motivasi untuk makan
h.
Kolaborasi
:
·
Consul
dengan tim gizi / tim mendukung nutrisi
R/ :
Menentukan kalori klien dan kebutuhan nutrisi dalam pembatasan
·
Berikan
obat sesuai indikasi seperti antiemetik
R/ : Untuk
menghilangkan mual / muntah
3. intoleransi aktifitas b / d kelemahan
fisik
Tujuan : intoleransi aktifitas
daat teratasi
kriteria hasil :
Intervensi:
a. Anjurkan klien untuk mengerakan
kaki,jari-jari kaki dan tangan
R/: Kurang
gerakan dapat menunjukan masalah saraf brakial inteskostal,dan dapat menggangu
sirkulasi
b. Evaluasi respon klien terhadap aktivitas. Catat
laporan dyspnea peningkatan kelemahan/ keletihan dan perubahan TTV selama dan
setelah aktivitas
R/ :
Menetapkan kebutuhan/kemampuan klien dan memudahkan pilihan intervensi
c. Jelaskan pentingnya istirahat dalam
rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat
R/ : Tirah
baring dipertahankan selama fase akut untuk menurunkan kebutuhan metabolik,
menghemat energi untuk penyembuhan
d. Bantu klien memilih posisi yang nyaman untuk istirahat dan tidur
R/: Klien
mungkin nyaman dengan kepala tinggi atau menunduk kedepan meja atau bantal
e. Bantu aktivitas keperawatan diri yang
diperlukan. Berikan kemajuan peningkatan aktivitas selama fase penyembuhan
R/: Meminimalkan kelelahan dan
membantu keseimbangan suplay dan kebutuhan
oksigen.
f.
Berikan
lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi
R/: Menurunkan stress dan
rangsangan berlebihan dan meningkatkan istirahat
g. Kolaborasi dalam pemberian O2
R/: Menambah kekurangan
oksigenasi atau mengurangi sesak nafas
IV.
IMPLEMENTASI
Setelah
rencana keperawatan disususn dengan sistematik selanjutnya rencana keperawatan
tersebut diterapkan dalam bentuk kegitan yang nyata dan terpadu guna memenuhi
kebutuhan dan mencapai tujuan yang diharapkan.
V.
EVALUASI
Akhir dari
proses keperawatan adalah ketentuan hasil yang diharapkan terhadap prilaku dan
sejauhmana masalah klien dapat diatasi. Disamping itu perawat juga melakukan
umpan balik atau pengkajian ulang jika tujuan yang ditetapkan belum berhasil
atau belum teratasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar